Showing posts with label IgoStory. Show all posts
Showing posts with label IgoStory. Show all posts

Friday, June 27, 2014

Semuanya Akan Kembali Seperti Biasa. Semoga.

Selamat pagi.

Sebelumnya saya minta maaf kalau akhir-akhir ini jadi rajin nulis. Berdasarkan pengalaman sih, saya rajin nulis hanya jika dua kondisi ini terjadi: satu, lagi gelisah, dua, lagi nggak punya duit. Kali ini dua-duanya terjadi. Eits- bukannya ngeluh, Boss. Kalau saya bilang 'akhir-akhir ini', berarti saya sudah nggak rajin nulis dalam waktu yang cukup lama, yang artinya saya nggak gelisah dan punya banyak duit cukup lama. Alhamdulillah. Saya bahagia dan kaya.

Cukup mukadimahnya.

Apa lagi yang saya tulis kalau bukan soal capres? Yang bosan dengan tulisan saya (yang baru 2 artikel) tentang capres, mending stop disini bacanya, jangan dilanjutin.

Saya nggak akan membahasa capres no. 1 atau no. 2 kok, tapi lebih ke 'kita'-nya. Ya, kita. Calon pemilih di pilpres 9 Juli nanti. Yang udah mutusin buat golput, stop disini aja bacanya ya, jangan dilanjutin. Percuma, Tong... Toh lu juga kagak bakalan milih. Turut berduka cita buat para 'golputers' atas ketidakpedulian dan ke-kurangpintaraan mereka.

Seperti yang kita tahu, pendukung masing-masing capres 'saling serang' di hampir semua media, baik itu sosmed, cetak, sampai TV. Baik pendukungnya si ini dan si itu nggak mau kalah. Si ini punya bukti ini, si itu membantah dengan bukti itu. Ini itu ini itu tanpa melihat dulu, karena sepertinya mereka sudah sama-sama buta dan lupa, kalau sebenarnya mereka sama-sama orang Indonesia, yang pada akhirnya harus bersatu membela negaranya.

Pertanyaannya, setelah 9 Juli nanti, siapapun pemenangnya, mau jadi apa kita? Apakah akan tetap saling lempar 'status sinis' kepada (orang yang sebelum pilpres adalah) teman-teman kita sendiri? Apakah kita akan tetap menganggap teman yang beda pilihan dengan kita adalah 'kawan tersesat' yang harus diluruskan jalannya dengan segala cara? Semoga tidak. Siapapun yang menang nanti, apakah itu capres-mu atau capres-ku, kita harus tetep kerja, cari duit. Kita nggak akan dapat rejeki nomplok dari pemenang pilpres. Kita nggak akan mungkin langsung naik jabatan kalau capres pilihan kita menang. Setelah pilpres, semuanya akan berjalan seperti biasa. Semoga.

Untungnya, besok sudah masuk bulan Puasa. Mungkin dengan berpuasa, pikiran-pikiran buruk, cacian, sinisme, sarkasme, dan hal-hal negatif lain bisa kita kurangi. Sudahlah, kalau memang niat dan ingin menunjukkan dukungan kepada capres pilihanmu, mbok ya tunjukkin sisi positifnya aja, tanpa lempar yang negatif ke 'kubu' lawan. Saya, jujur, mungkin secara sengaja atau nggak sudah menyerang capres yang bukan pilihan saya dan para pendukungnya. Tapi, jujur (lagi), serangan saya itu lebih ke 'counter-attack' karena saya merasa diserang lebih dulu. Jadi cukup lah. Semuanya akan terjawab kurang dari dua minggu lagi.

Dukung capres pilihanmu dengan kreatif, buka pikiran biar bisa #Mikir.

Salam damai. Salam dua jari.

Sunday, March 10, 2013

Jadi Begitu

Lama nggak bercerita.

Oke, mulai darimana? Oh- ya. Sekarang saya sudah nggak bekerja di Radio lagi. Lumayan lah, 3 tahun terakhir capek juga. Bukan apa-apa, saya memutuskan untuk menjalani cita-cita lama saya dari SMA, menjadi kuli tambang.

Kuli? Memang sih kedengarannya cukup nista. Weits! Nggak ada pekerjaan yang nista. Semua pekerjaan itu baik, kecuali mencuri, merampok, memperkosa, dan sejenisnya. Korupsi terutama. Oke, untuk lebih jelasnya, tentang bagaimana awalnya saya meninggalkan pekerjaan di Radio (yang sebenarnya sangat saya cintai) dan menjadi kuli tambang, saya akan mewawancarai diri saya sendiri.

Q : Halo, apa kabar, Virgo? Atau Igo?
A : Kabar baik, Alhamdulillah. Terserah mau panggil apa saja, asal jangan panggil saya Mbak.
Q : Jadi, kenapa anda memutuskan untuk berhenti bekerja di radio?
A : Sebenarnya, saya nggak ingin berhenti, nggak pernah. Hanya saja, hidup itu penuh kejutan. Bentuk kejutannya macam-macam. Mulai dari kabar, pengalaman, sampai kesempatan. Nah, yang saya temui adalah kejutan yang terakhir saya sebutkan tadi.
Q : Jadi, anda memutuskan untuk berhenti bekerja di radio karena ada kesempatan lain yang lebih bagus?
A : Lima puluh persen, ya. Lima puluh persen yang lain... Kamu pernah dengar comfort zone?
Q : Yang ada di iklan-iklan pembalut wanita?
A : Matamu! Comfort zone alias zona nyaman itu adalah saat kamu bekerja di satu tempat atau perusahaan, dan kamu menguasai, atau seenggaknya merasa menguasai dalam kasus saya, semua pekerjaan yang kita lakukan di perusahaan. Sehingga kita merasa nyaman, lama-lama demotivated alias nggak ada motivasi lagi. Stuck. Sejauh pengetahuan saya seperti itu sih. Nggak tahu kalau ada penjelasan lain tentang comfort zone.
Q : Anda merasa menguasai semua pekerjaan di perusahaan lama?
A : Sama sekali enggak. Masih banyak hal yang harus saya pelajari. Tapi, di kantor saya sebelumnya, di situlah saya banyak sekali belajar mulai dari A sampai Z. Saya sangat beruntung bekerja di tempat itu.
Q : Kesimpulannya adalah, anda memutuskan banting stir dari orang radio menjadi orang tambang karena ada kesempatan dan anda merasa terlalu nyaman dengan pekerjaan di radio?
A : Jangan menyimpulkan sesuatu sembarangan. Bukan begitu. Ah, saya jadi bingung kan? Nggak gitu. Jadi, jauh sebelum saya mendapat kesempatan untuk mencoba bekerja di radio saat masih kuliah sekitar 7 tahun lalu... 7 tahun. Damn. Tua juga ya... Nah, sebelum bekerja di radio pertama, saya punya cita-cita untuk bekerja di perusahaan pertambangan. Alasannya sederhana, saya melihat pakdhe saya cukup sukses bekerja di pertambangan. Terutama secara finansial. Sebelum lulus SMA, saya punya cita-cita untuk itu. Jadi anggap saja, keputusan yang saya ambil ini adalah bagian dari cita-cita hidup saya.
Q : Oke. Anda mata duitan juga rupanya?
A : Matamu lah... Siapa sih yang nggak butuh duit di dunia ini? Oke, kamu bisa bilang uang bukan segalanya, tapi- segalanya butuh uang? Memang, gaji, pendapatan finansial, juga menjadi pertimbangan saya untuk meninggalkan pekerjaan di radio. Tapi bukan berarti satu-satunya alasan saya adalah duit. Walaupun saya memang butuh duit buat biaya nikah akhir tahun ini.
Q : Anda curhat?
A : Nggak. Lu tanya, gua jawab. Cuk.
Q : Baiklah, walaupun alasan anda nggak begitu jelas. Anggap saja saya sudah mengerti. Pertanyaan berikutnya, apakah anda nyaman menjadi seorang kuli tambang?
A : Saya luruskan. Saya bukan kuli. Saya memang bekerja di bidang pertambangan, tapi saya bukan kulinya. Oke? Tapi nggak apalah kamu sebut kuli, yang penting gaji nggak kuli. Hmmm... Nggak terasa sudah satu bulan saya bekerja di kantor baru. Sejauh ini, cukup nyaman. Saya yang semula males buat hitung menghitung dan membuat formula-formula di Excel, menjadi sangat suka bermain Excel dan matematika. Menyenangkan, seperti main game. Saya merasa jadi insinyur. Hahaha
Q : Anda memang sombong atau pura-pura sombong?
A : Terserah penilaian orang.
Q : Apakah anda menyesal meninggalkan dunia radio dan menjadi kuli tambang seperti sekarang?
A : Saya nggak bilang meninggalkan dunia radio. Yang jelas ini adalah keputusan yang sudah saya ambil. Penyesalan hanya akan menendangmu ke jurang. Saya nggak menyesal. Di tempat dan bidang pekerjaan yang baru ini, saya menemukan banyak hal baru yang sama sekali belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Yang paling menyenangkan adalah, saya bertemu dengan orang-orang dari belahan wilayah lain di Indonesia. Batak, Bugis, Banjar, Dayak. Semua suku ada di sini. Saya berkenalan dengan mereka, berteman dengan mereka, dan yang paling saya suka adalah mempelajari bahasa daerah mereka.
Q : Baik. Terimakasih atas waktunya.
A : Ya. Silahkan pergi.

- END -

Saturday, October 13, 2012

It's Samurai Style, Bitch!

Semua orang tahu Gangnam Style, mencoba menari seperti PSY, dan membuat parodi video Gangnam Style. So? Mungkin PSY memang fenomenal, walaupun sebenarya di Korea Selatan sendiri dia posisinya seperti Rhoma Irama, mencoba bertahan untuk tetap eksis. Dafuq with PSY! MIYAVI's came, saw, and rock Indonesia this weekend!

Saya yakin banyak orang Indonesia yang nggak tahu siapa Miyavi, Miyabi lebih dikenal disini. Tapi untuk seorang otaku, Miyavi bukan nama yang asing dan nggak akan dihubung-hubungkan dengan Miyabi. Singkatnya, Miyavi adalah musisi dari Jepang, penyanyi, pemain gitar dengan style slapping yang disebut rock samurai guitar, dan seorang entertainer yang nggak hanya jual muka plastik dan jago menari (bc: boyband bangsat Korea). Kalau pengen tahu lebih lengkap tentang Miyavi, cari aja di Google.

Semalam, tanggal 12 Oktober 2012, Miyavi tampil di perayaan ulang tahun Hard Rock Cafe Bali yang ke-19. Dua hari sebelumnya dia juga tampil di Hard Rock Cafe Jakarta, acara ulang tahun juga, tapi yang ke-20. Acara Hard Rock Cafe 19th Anniversary feat. Miyavi dimulai jam 10 WITA dengan penampilan DJ Funky Gong. Walaupun saya jarang klabing dan nggak begitu suka dengan musik disko, Funky Gong keren juga maennya. Rock rock DJ lah pokoknya.

Jam 11 lebih beberapa menit, saat yang ada di Hard Rock Cafe sudah mulai kegerahan karena pengap penuh sesak, akhirnya Miyavi muncul diatas panggung. Saya nggak perlu bahas dia pakai baju warna, apa celana warna apa, I'm not fashion expert, dude. Miyavi langsung menyapa penonton dengan lagu What's My Name? (Sepertinya amnesia juga nih orang). Sumpah keren, nyet! Hanya dengan seorang drummer, musik Miyavi terdengar seperti satu orkestra lengkap dengan penari telanjangnya! Yep! Just a guitar and a drum! Bahkan Matthew Bellamy butuh bass berefek untuk membuat musik Muse terdengar penuh, Miyavi nggak butuh itu.


Cara dia main gitar aneh, unik, keren! Detailnya seperti apa saya nggak mau cerita, yang jelas dia nggak 'menggenjreng' atau 'memetik' senar gitarnya. Miyavi MENAMPAR senar gitarnya, seolah-olah itu adalah pantat perempuan seksi yang sedang nungging.

Lagu demi lagu dinyanyikan Miyavi, jujur saya hanya mengenali beberapa saja seperti We Love You, Strong, dan (kalau nggak salah) Selfish Love. Saya nggak peduli dia menyanyikan lagu apa, yang saya nikmati adalah musik dan permainan gitarnya yang super duper keren! ..dan err- tampang drummer-nya yang seperti orang ngeden pas buang air besar. But, he's fucking crazy drummer!

Lagu terakhir yang dinyanyikan Miyavi adalah Day 1. Heran banget sama ini lagu. Saat denger di versi studio-nya, kelihatan banget kalau sound Day 1 banyak dibantu DJ dan synthesizer, tapi saat tampil live semalam, nggak ada DJ atau semacamnya yang membantu Miyavi menyanyikan Day 1, hasilnya: PERFETTO! Benar-benar terdengar seperti versi studionya. Setelah Day 1 selesai, Miyavi turun ke panggung, ganti baju dan langsung ENCORE: Are You Ready to Rock!? Aneh juga sih, harusnya lagu ini dinyanyikan di awal, nggak tahunya malah jadi Encore. Mungkin karena lagu ini adalah salah satu lagu yang membuat Miyavi dikenal dunia.

Kesimpulannya, penampilan Miyavi keren. Semalam dan dua malam sebelumnya di Jakarta adalah penampilan pertama Miyavi tampil di Indonesia seumur hidupnya. Mungkin lain kali lebih keren kalau dia tampil di venue yang lebih besar tanpa ornamen gitar raksasa yang mengganggu gerakannya diatas panggung.

Setelah nonton Miyavi semalam, saya semakin termotivasi untuk beli gitar di sini. Saya tahu, sulit sekali untuk meniru cara Miyavi bermain gitar. Tapi tenang, saya nggak berniat menirunya, saya masih bisa memainkan gitar dengan cara lain. Misalnya, dikepruk ke kepala orang-orang sombong yang seolah-olah bisa melakukan semua hal, dan ke kepala orang-orang yang jumawa hanya karena satu prestasi kecil yang bahkan nggak patut untuk disombongkan.

Sekian. Saya masih tampan.

Sunday, October 7, 2012

Kenapa Chelsea FC?

Semalam Chelsea 'ngemut' Norwich City 4 - 1 di Stamford Bridge. Sama seperti True Blue lain, tentu hasil ini membahagiakan, rasanya seperti Samsul Bachri yang akhirnya bisa menikahi Siti Nurbaya. Untuk orang-orang yang dekat atau kenal dengan saya, pasti tahu kalau saya adalah fans tim sepakbola London itu. Nah, sekarang saya mau cerita tentang asal muasal kenapa saya ngefans dengan tim sepakbola berlambang singa ini. Penting nggak penting, buat saya sih penting. :p

Berawal dari keluarga. Semua anggota keluarga saya mulai dari kakek, bapak, paman, sampai keponakan-keponakan saya yang laki-laki adalah orang yang gila bola. Saat masih berumur 7 tahun, waktu itu kalau nggak salah masih kelas dua SD, saya diajak ke Surabaya oleh bapak saya. Nggak sengaja disana, saya nonton pertandingan final Piala Dunia 1994, waktu itu Brasil yang menang. Saya ingat banget dengan selebrasi gol Romario yang ala-ala menggendong bayi. Besoknya begitu pulang ke kampung halaman, pas main bola plastik, saya bergaya ala Romario setelah mencetak gol. Hehuehuehue... Dari kecil saya memang suka main sepakbola, bukan bola doang, ada sepaknya.

Saat kelas 4 SD, saya sudah menjadi bagian timnas senior SDN Rejowinangun II, dan saya yang paling kecil. Waktu itu tim SD saya main di turnamen sepakbola SD se-kecamatan Kademangan, acara 17 Agustusan, dan kalah di pertandingan pertama. Namanya juga anak-anak, waktu itu saya sedih sampai nangis. Tahu saya seperti itu, mungkin bapak saya yang masih sayang sama saya (sampai sekarang pun sebenarya juga sih), membelikan saya dua kostum bola sebagai hadiah, atau untuk hiburan lah, supaya saya nggak nangis lagi. Saat itulah, dua kostum bola yang saya miliki adalah satu milik Chelsea FC, satu lagi milik SS. Lazio. Dari saat itu saya mulai kenal dengan sepakbola Italia, mulai membaca tabloid Bola yang jadi langganan bapak, dan mulai ikut nonton pertandingan bola malem-malem.

Kostum Chelsea FC yang pertama kali saya miliki masih ber-sponsor AUTOGLASS. Gianfranco Zola menjadi pemain idola saya saat itu.
Wujud kostum Chelsea FC yang pertama kali saya miliki.
Saat itu, walaupun saya nggak tahu seperti apa permainan Chelsea, siapa pelatihnya, apa nama stadionnya, saya langsung nge-fans. Alasannya, karena saya punya kostum Chelsea. Namanya juga anak-anak...

Dari saat itu, setiap kali ada pertandingan Chelsea melawan tim manapun, bapak selalu membangunkan saya di malam hari untuk diajak nonton bareng. Beberapa pemain yang saya ingat saat itu adalah Dennise Wise (Kapten nih), Gianfranco Zola, Dan Petrescu, Roberto Di Matteo (sekarang pelatih nih orang, di Chelsea pula), Ed De Goey, Gianlucca Vialli, Tore Andre-Flo, dan siapa lagi saya lupa. Perlu dicatat, Chelsea bukan tim yang begitu hebat saat itu. Semua teman-teman masa kecil saya lebih suka David Beckham dan Eric Cantona (Manchester United), atau Gabriel Batistuta (Fiorentina).

Karena itu, kalau ada yang bilang saya suka Chelsea setelah diakuisisi Roman Abramovich dan dilatih Jose Mourinho... Hey, wake up, Dude! I'm a true blue since 1997! Kedatangan Roman Abramovich dengan duitnya dan Mourinho dengan kecerdasannya adalah hadiah untuk kami yang menjadi fans Chelsea dari jaman Zola dan Ruud Gullit.

Ada sejarah yang cukup panjang kenapa saya suka Chelsea FC, saya bukan fans dadakan seperti kebanyakan fans Manchester City sekarang, hehehe... Dari jaman Frank Lampard bukan siapa-siapa sampai dia jadi legenda, dari saat Gianfranco Zola masih jaya sampai dia tua. Sekarang, walaupun mainnya kadang angin-anginan, dan orang bilang Chelsea jadi Juara Liga Champions 2012 cuma keberuntungan, Chelsea FC tetap Chelsea FC! So, stay away you MENCRETERS fans! Lihat apa yang akan dilakukan Eden Hazard, Oscar, Juan Mata, Marko Marin, David Luiz, Lucas Piazon, Josh McEachran, Romelo Lukaku, dan Oriol Romeu di masa depan!

Blue is the colour, football is the game, we're all together and winning is our aim... So cheer us on through the sun and rain, 'cuz Chelsea, Chelsea is our name!

Keep the Blue Flag Flying High!

Monday, September 24, 2012

Innocent of Muslims. Ha?

Sebenarnya sudah agak terlambat untuk menulis tentang film 'Innocent of Muslims' yang (katanya) kontroversial. Tapi tak apalah, gatel juga pengen nulis tentang ini... Ya, walaupun saya yakin kualitas tulisan saya nanti pasti gitu-gitu aja... Nggak apa, baca aja dulu. -__-

Pertama, saya belum pernah nonton filmnya, sekalipun bisa dilihat di YouTube. Katanya (lagi), film ini dianggap melecehkan Nabi Muhammad, SAW... Errrr- setahu saya (ilmu agama saya nggak terlalu dalam), sebagai seorang muslim, saya nggak boleh menggambarkan sosok Nabi Muhammad secara visual, entah itu gambar atau video. Mungkin aturan ini nggak berlaku untuk orang yang beragama Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan sebagainya. Jadi kalau orang yang nggak beragama Islam, menurut saya nggak masalah untuk bikin film ini. Toh, kalau dosa mereka sendiri yang menanggung, bukan kita (umat muslim).

Kedua, kembali kepada diri masing-masing. Sebagai orang yang (mengaku/semoga) cerdas, sebagai muslim yang bisa berpikir, kenapa harus kita ributkan? Allah itu maha tahu! Tanpa kita menghakimi, marah-marah, bakar ini-itu, atau bahkan membunuh orang yang (dianggap) bagian dari pembuat film itu, Allah pasti akan memberikan hukuman yang setimpal! Yakin dah! Mengutip satu twit dari DJ Echa (@echa1945mf):

"ga guna boikot youtube and google segala lah , kalo merasa cinta ma rosul ya jadi muslim yang baik dan berguna aja,dont be an idiot."

Saya setuju dengan twit itu. Mari kita jadi muslim yang cerdas. Saat ada orang yang kita anggap menjelek-jelekkan Nabi Muhammad, jangan dibalas dengan kekerasan... Tiru muslim di Inggris. Mereka justru menjual buku-buku yang berisi tentang Nabi Muhammad dan semua kebaikannya. Tujuannya jelas: Membantah semua hal yang ada di film itu dengan cara cerdas! Dengan membaca buku-buku itu, pengetahuan orang (bahkan yang nggak beragama Islam) tentang Nabi Muhammad akan lebih banyak, sehingga dengan sendirinya mereka tahu kalau Nabi Muhammad nggak seperti yang ada di dalam gambaran film itu. Ya, walaupun saya sendiri nggak pernah nonton filmnya.

Cara cerdas yang lain adalah, pasang foto profil atau avatar Twitter yang menunjukkan cinta kita kepada Rosul, Nabi Muhammad. Nggak perlu dengan acara bakar-bakaran, rusak-merusak, atau boikot-memboikot. Sudahlah... Allah nggak pernah tidur. Bukan kita yang berhak menghakimi benar atau salah, kita bukan Tuhan!

Bukankah lebih baik kalau kita semakin belajar tentang agama Islam lebih dalam? Mempertebal iman dan yakin kalau yang berhak menentukan benar atau salah adalah Allah.

Saya beragama Islam, mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW, selalu berusaha menjalankan apa yang harus saya jalankan sebagai orang Islam. Setahu saya, Islam nggak mengajarkan kekerasan. Ada satu ungkapan klise: Semua kembali pada-Nya. Ya. Termasuk masalah film 'Innocent of Muslims'. Serahkan semua pada-Nya.

Sunday, September 16, 2012

Tentang Kumis

Setiap manusia ditakdirkan punya kumis, nggak peduli laki-laki atau perempuan. Bapakku berkumis, Mbah Kakung juga berkumis, bahkan Ibuku juga punya kumis walaupun tipis. Saya tentu saja juga berkumis, kumis yang manis. Saya lupa kapan awal mulanya kumis ini tumbuh.

Dulu, saat pertama kali kumis ini terlihat, kalau nggak salah saat SMP, saya bingung sekali. Muka saya terlihat lebih tua, seperti bapak tukang becak yang selalu saya sapa saat nunggu bus buat pergi ke sekolah. Lupa namanya, yang jelas bapak tukang becak itu baik hati, pernah bantu saya waktu nggak punya duit buat mengambil sepeda di penitipan, duit saya hilang waktu itu.

Oke, kembali ke kumis. Laki-laki punya kumis itu wajar, tetapi kalau perempuan punya kumis (yang kelihatan jelas) mungkin agak aneh. Setiap kali melihat perempuan yang kumisnya terlihat sedikit jelas pikiran saya selalu sama: orang ini nafsunya diatas ranjang gedhe! Ternyata nggak juga. Darimana saya tahu? Dari banyak hal, mungkin termasuk dari kamu yang baca tulisan ini. :p

Saya menemukan beberapa fakta menarik tentang kumis dari situs ini. Jadi akan saya bagi apa yang saya baca.
  • Sebagian besar perempuan lebih tertarik kepada laki-laki berkumis, nggak peduli itu tebal atau tipis. Contohnya Inul Daratista, muka suaminya kumis semua.
  • Kumis akan membuat kita (merasa) cerdas. Lihat saja Albert Einstein.
  • Laki-laki berkumis akan menyentuh kumisnya rata-rata 760 kali dalam satu hari.
  • Tahun 1988 ada survey yang dilakukan pada 100.000 perempuan (asli, bukan jadi-jadian) menemukan 68 persen diantara mereka mengaku kalau laki-laki berkumis lebih ganas diatas ranjang.
Berdasarkan fakta-fakta diatas, saya semakin yakin, saya akan membiarkan kumis ini tumbuh subur. Nggak akan saya biarkan tebal seperti punya suaminya Inul. Biar saja tetap tipis-tipis manis seperti ini.

Salam super! Mie!

Monday, September 10, 2012

Nina

Dua hari lalu, sesaat sebelum Maghrib, kepulan-kepulan asap truk DKP dan baunya, meninggalkanku terdiam diatas motor satu-satunya yang aku punya. Samar aku lihat Nina membuka pagar rumahnya tanpa menoleh sedikitpun. Kalau tidak salah hitung, momen seperti itu sudah berulang satu bulan lebih.

Tepatnya kapan, aku lupa. Tapi perempuan bernama Nina itu benar-benar membuat aku lupa jarak rumahku yang sangat jauh dari rumahnya. Aku menjadi stalker, penguntit lebih tepatnya. Nina, staff admin baru dari kantor sebelah, muncul saat aku baru putus. Atau lebih tepatnya diputus pasangan, untuk pertama kalinya setelah sewindu, oleh perempuan yang menjadi pasangan saya selama setengah windu.
Karena dia, check-log kantor yang biasanya tercetak dengan tinta merah, mendadak hitam. Sampai-sampai HRD kantor memberiku pujian karena rajin, padahal aku hanya ingin melihat Nina setiap pagi setiap memasuki kantornya. Walaupun sekelebat, tanpa dia menoleh sama sekali dan tanpa dia tahu aku memperhatikannya, rasanya tetap saja nikmat. Seperti melihat jus buah segar saat kepanasan dan tersesat di gurun Gobi.

Mendeskripsikan seorang Nina mungkin nggak susah kalau pernah melihat Anne Hathaway. Dengan bentuk tubuh yang nyaris sempurna di mata laki-laki seperti saya, bibirnya yang agak tebal, mata lebar, dan rambut panjang sedikit ikal, membuat Nina terlihat kembar identik dengan Anne Hathaway. Yang beda hanya warna kulitnya. Kulit Nina sangat Indonesia.

Sampai sekarang, untuk menyapa Nina saja belum juga terlaksana. Ada dua kemungkinannya: pertama karena fisik dan kecantikan tidak membuat aku gampang bilang suka atau cinta. Kedua, move on itu tidak segampang yang orang kira. Dua hal itu hanya kemungkinan, karena satu hal yang pasti, satu hari lalu Nina meninggal dunia karena leukimia. Tapi, cerita singkat tentang Nina, masih terekam jelas di dalam kepala.

Besok aku ingin menyapa Nina untuk pertama kalinya, walaupun yang kusapa hanya ukiran nama di batu nisannya.

“Hi, Nina. Aku sudah mengagumimu sejak lama.”

END

Thursday, August 16, 2012

Puasa di Pulau Dewata: Tiga (Bubar)

Ini adalah tulisan lanjutan dari artikel sebelumnya. Bisa dilihat dari judulnya. Ibarat film, tulisan saya tentang 'Puasa di Pulau Dewata' adalah trilogi garing yang (rasanya) ingin secepatnya diakhiri. Nggak banyak waktu juga buat nulis. Maklum, eksekutip muda - super sibuk!

Oke - lanjut ke seri terakhir tulisan bersambung saya. Hari ini adalah hari terakhir saya di Bali sebelum mudik, dan hari ini adalah hari ke-27 bulan Ramadhan (kalau saya nggak salah hitung). Banyak hal parah yang terjadi setelah tulisan terakhir saya disini.

Dalam beberapa hari terakhir saya nggak pernah puasa! Jujur! Jangan ditiru! Bukan apa-apa, dan saya nggak mau membuat alasan juga sebenarnya, tapi selama 27 hari ini, hanya 3 kali saya makan sahur, sisanya *tiiiiiiiiiiiiiiittttt

Kesimpulannya adalah: Puasa di Bali nggak jauh berbeda dengan puasa di Blitar. Sama-sama harus menahan lapar, haus, dan hawa nafsu dari Imsak sampai Maghrib. (end)

Monday, July 30, 2012

Puasa di Pulau Dewata: Dua

Hi, Bro. Hi, Sis.

Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, (kalau ada waktu) saya akan menulis tentang pengalaman pertama melewati bulan Ramadhan di pulau Bali. Sebenarnya saat menulis ini, waktu saya juga nggak banyak-banyak amat, karena ini jam kerja. Rehat sebentar lah, nge-game terus bosen... #eh


Oke. Jadi begini. Kalau nggak salah hitung, hari ini (30 Juli 2012) adalah hari kesembilan saya menjalankan puasa Ramadhan. Hebatnya, nggak ada yang bolong! Heuheuheu. Inget dulu pas masih di Jawa, setannya lebih ganas, lihat es degan langsung ngajak 'mokel'. Nggak tahu kenapa, mungkin karena beda setan atau karena saya sibuk kerja, gangguan atau godaan utama saat puasa di Bali bukan makanan atau minuman, tapi 'pemandangan' alam dan 'sekitarnya'. Bu Ustadzah bilang sih mata jelalatan bisa membatalkan puasa. Nggak tahu, apa mata saya jelalatan atau sekedar berolahraga ringan.

Warung sate langganan buka Puasa. :)
Satu hal yang membuat sedih adalah, saya hanya Shalat Tarawih di hari pertama. Bukan karena jauh dari Musholla atau apa, tapi karena selalu kekenyangan setelah buka puasa. Astaghfirullah... Semoga saya lekas disadarkan.


Berbeda dengan di Blitar (atau di kota lain di Jawa Timur), nggak ada pasar dadakan yang khusus jual takjil. Tapi, ada banyak pedagang dadakan yang jualan takjil, dan tempat mereka jualan agak berjauhan, jadi nggak bisa disebut pasar. Yang lebih edan lagi, nggak ada warung makanan yang tutup di siang hari. Semua buka, blak-blakan, orang-orang makan, minum, bayar di kasir warung, semua terlihat jelas! Tapi inilah tantangannya menjalankan puasa Ramadhan di tempat dimana muslim adalah minoritas.

Satu hal yang membuat saya senang adalah adzan. Kalau diluar bulan Ramadhan, jarang sekali saya mendengar suara adzan kalau nggak pas lewat depan masjid (dan pas adzan). Selain itu, musholla tempat saya shalat Tarawih setiap malamnya selalu ada orang yang baca atau khataman Al-Quran, walaupun nggak pake toak atau pengeras suara.

Kesimpulan di 10 hari pertama adalah: HEBAT. Toleransi beragama disini (Bali), menurut saya, adalah yang paling baik dibandingkan tempat lain di Indonesia. :)

Thursday, July 19, 2012

Puasa Di Pulau Dewata

Wew... Baru sadar kalau blog ini sudah terbengkalai selama 2 bulan lebih. -__-

Okay. Mari mulai menulis lagi. Pertama yang ingin saya tulis adalah waktu. Ya, waktu saya menulis ini, orang-orang di luar sana sedang bingung (seperti biasa) menentukan kapan tanggal 1 Ramadhan. Tahun ini, ada yang bilang tanggal 1 Ramadhan adalah 20 Juli, ada lagi yang bilang tanggal 21 Juli. Menurut jadwal Imsakiyah yang saya dapat dari Masjid Al-Irsyad, Kabupaten Badung, Bali, tanggal 1 Ramadhan adalah hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012. Saya mengikutinya. Nggak peduli mereka Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah, karena buat saya Islam hanya satu: I S L A M.

Tahun ini adalah pertama kalinya saya ada di luar Kota kelahiran saya saat bulan Ramadhan. Kalau dulunya selalu ada di Balitar, sekarang saya ada di Bali. Beda tipis. BALItar dan BALI. Seperti yang kita tahu, mayoritas warga Bali beragama Hindu, tentunya suasana Ramadhan di Bali akan berbeda sekali dengan di Blitar. Mungkin saya nggak akan mendengar suara orang ronda setiap menjelang sahur. Mungkin nggak ada suara petasan setiap jam ngabuburit. Mungkin juga saya nggak akan mendengar sayup-sayup orang baca Al-Quran di malam hari. Tapi, Bali adalah surga. Termasuk untuk orang yang mendambakan kerukunan umat beragama seperti saya. Toleransi beragama di Bali sangat tinggi. Nggak jarang Pecalang (Polisi adat Bali) mengamankan orang-orang muslim yang beribadah di Masjid. Nice. Bali adalah Bhinekka Tunggal Ika Indonesia yang sebenarnya. :)

Saya belum tahu seperti apa nantinya Bulan Ramadhan disini. Yang jelas, ada beberapa kebiasaan menjelang Ramadhan yang saya temukan di sini, sama dengan apa yang biasanya saya lakukan di Blitar yaitu 'nyekar'. Siang tadi, bersama teman-teman kantor, saya nyekar ke makam seorang teman dan orang tua teman kantor saya yang kebetulan juga muslim. Tempat nyekar ada di pemakaman muslim di daerah Sidakarya, Denpasar. Walaupun nggak seramai pemakaman di Jawa, suasana pemakaman (muslim) di Bali menjelang Ramadhan sedikit mengingatkan saya dengan kampung halaman. Satu hal yang sangat berbeda, tanah pemakaman di sini memakai sistem sewa. Jadi, kalau ada saudara atau keluarga kita yang meninggal, kita harus bayar sewa tanah untuk makam. Kalau nggak salah 300 ribu rupiah per keluarga untuk sewa tanah pemakaman selama dua tahun.
Nyekar di pemakaman muslim Sidakarya, Denpasar
Dari cerita yang saya dengar, di sini juga ada kebiasaan ngabuburit, yang nggak kalah ramai dengan suasana ngabuburit di Jalan Merdeka Kota Blitar. Seperti apa jelasnya saya belum tahu. Semoga nanti tiap seminggu sekali saya bisa ceritakan lewat blog ini, bagaimana suasana Ramadhan di Bali. Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat berpuasa. :)

Friday, March 23, 2012

Nyepi di Bali (Untuk Pertama Kali)

Ogoh-ogoh
23 Maret 2012, pertama kalinya saya merayakan Nyepi di Bali. It's exciting! Banyak hal yang baru saya ketahui sekarang tentang Nyepi. Jauh sebelum hari ini, semua banjar sudah melakukan banyak persiapan, terutama membuat ogoh-ogoh. Menurut pak Nyoman, teman kantor saya, membuat ogoh-ogoh butuh biaya yang nggak murah, biasanya sampai puluhan juta rupiah, apalagi untuk yang ukurannya besar (dan kebetulan hampir semuanya berukuran raksasa). Bentuk ogoh-ogoh bermacam-macam, kebanyakan berbentuk Buto (monster, heheh), ada yang berbentuk Naga, Gajah, Garuda, bahkan ada yang berbentuk seperti Wewe atau Tuyul!

Ogoh-ogoh berbentuk Naga, diarak saat proses 'pengerupukan'

Ribuan ogoh-ogoh, baik yang dibuat banjar atau perorangan, akan diarak sehari sebelum nyepi. Proses ini namanya 'pengerupukan' (CMIIW). Ogoh-ogoh yang selesai diarak akan dibakar. Pak Nyoman bilang proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta. Mensucikan alam dari makhluk-makhluk jahat yang dilambangkan oleh ogoh-ogoh.

Tiga hari sebelum Nyepi (hari Selasa), ada upacara Melasti. Saya nggak tahu upacara ini bertujuan untuk apa (belum nanya ke pak Nyoman, hehehe), yang jelas di daerah Kuta, upacara Melasti menyebabkan macet sampai setengah jam di jalan Legian. Dan saya terjebak di tengah kemacetan itu. Tapi dengan melihat langsung upacara ini, saya benar-benar merasa ada di Bali! Maklum, Bali sekarang sudah beda dengan pertama kali saya kesini sepuluh tahun lalu. Tapi Bali tetap indah walaupun sudah banyak gedung dan lalu lintasnya macet. :))

Tutup semua jendela dan ventilasi dengan koran. :D
Sehari sebelum Nyepi lebih seru lagi. Kebetulan saya pulang kerja jam satu siang (setengah hari kerja), langsung ke ATM buat ambil duit. Eh~ ternyata ATM sudah mati semua! Kebanyakan bank menutup ATM mereka jam dua belas siang sehari sebelum Nyepi. Untungnya masih ada ATM yang masih bisa di pakai di daerah Denpasar Timur, ya... Walaupun harus ngantri panjang seperti orang antri beras. Setelah dapet duit, saya dan mas Yuda, temen kost saya, langsung belanja buat persiapan Nyepi. Camilan, makanan siap saji (mie instant lah...), minuman, dan semua amunisi anti-lapar. Selesai belanja, kami berburu koran, untuk menutup semua jalan keluar-masuk cahaya seperti jendela dan ventilasi.

Dan saat saya menulis artikel ini, masih jam satu siang WITA, jadi belum begitu terasa Nyepi-nya. Kecuali rumah lebih gelap karena jendela dan ventilasi sudah tertutup koran. Mungkin lain halnya nanti malam. Semua lampu nggak boleh menyala, nggak ada cahaya, nggak boleh ada suara. Intinya, harus benar-benar sepi! ...dan gelap.

Oh ya~ saat Nyepi, semua saluran televisi dan radio mati, bandara, pelabuhan, terminal, dan semua fasilitas lain ditutup. Untungnya listrik masih menyala, tapi nggak bisa menyalakan lampu (daripada berurusan dengan pecalang). Kesimpulannya, Nyepi di Bali itu menyenangkan!

Sunday, March 11, 2012

Bukan Kisah Nyata, Mungkin

Senyumannya masih sama dari awal kami bertemu dulu. Senyuman malu-malu yang membuatku sedikit tergoda. Ya, sedikit saat awal, tapi sekarang sudah mulai tumbuh dan aku menjadi sangat tergoda.

“Yuk…”,

Suara perempuan lain yang muncul dari balik tirai tipis yang memisahkan kamar dengan ruang tamu dengan sofa yang salah satunya sedang aku duduki. Sekarang ada dua perempuan di depanku, Inka, pemilik suara yang juga pacarku,  dan Sandra, perempuan dengan senyum khas yang sedari tadi duduk di sisi lain sofa ini.

Inka mengulurkan tangannya mengajakku pergi, meninggalkan Sandra sendirian.

“Kita pergi dulu, San. Daa…”, Inka berpamitan kepada Sandra yang tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku menatap Sandra, berharap lambaian tangannya bukan untuk Inka.

Malam itu aku menghabiskan waktu bersama Inka di salah satu pantai paling indah di Pulau ini. Langit cerah, walaupun hanya ada beberapa bintang yang kelihatan ceria dan bulan yang nggak benar-benar penuh. Kami menikmati butir-butir pasir yang menggelitik telapak kaki, suara deburan ombak, dan kata-kata yang keluar dari mulut kami. Seperti malam-malam sebelumnya, lenguhan dan teriakan kecil Inka terdengar di telinga, berakhir dengan pakaian yang terbaring diatas pasir pantai.

Kami terbangun saat matahari masih berada jauh di timur dan belum menunjukkan sinarnya sedikitpun. Kami pulang, menuju tempat kost Inka yang hanya berjarak lima belas menit dari pantai ini.

Inka mengetuk pintu kostnya beberapa kali sampai muncul wajah Sandra yang membuka pintu. Saat inilah yang selalu aku tunggu. Sandra akan muncul dengan piyama transparannya, tersenyum di balik pintu, membiarkan Inka masuk, lalu melambaikan tangan kepadaku. Inka nggak merasa curiga karena Sandra begitu lihai sekali menggodaku tanpa harus diketahui siapapun.

***********

Ini yang kesekian kalinya aku datang ke tempat kost Inka saat dia sedang bekerja. Maksud kedatanganku memang bukan untuk dia, tapi untuk Sandra, perempuan dengan senyum dan tubuh indah yang selalu dia perlihatkan kapanpun kepadaku. Sandra sudah menunggu saya di sofa ruang tamu. Biasanya dia sedang membaca buku. Saat melihatku datang, dia akan menurunkan sedikit bukunya, melihat kearahku, meletakkan bukunya diatas meja, lalu menghampiri, memeluk, dan kami berciuman.

Setelah menutup pintu kost, kami menuju ruangan di balik tirai tipis dengan kasur empuk yang cukup luas untuk kami berdua, lalu melanjutkan hal yang sudah biasa kami lakukan selama beberapa minggu ini. Dalam hal ini, Sandra lebih hebat daripada Inka, mungkin itu yang membuatku kecanduan dengannya.

Cuaca panas siang itu semakin terasa. Aku membiarkan keringat Sandra mengalir bebas di tubuhku. Wangi.

Kami semakin liar. Sampai saat aku terkejut karena mendadak Sandra berhenti dan terlihat kaget dengan apa yang dia lihat di belakangku. Dengan sedikit menoleh, aku melihat Inka berdiri di belakangku dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya. Lalu dia berbalik badan dan berjalan keluar dengan cepat. Terdengar suara pintu ditutup dengan kasar. Inka menghilang dari pandangan dalam beberapa detik. Aku dan Sandra saling bertatapan, lalu melanjutkan apa yang kami lakukan. Buatku, menunda kenikmatan adalah pantangan. Inka? Urusan belakangan.

END

Friday, March 9, 2012

Perempuan Manis, Cantik, Seksi. Pilih Mana?

Seperti juga laki-laki, banyak tipe perempuan yang 'beredar' diluar sana. Sejauh ini ada empat tipe perempuan yang saya anggap paling penting, yaitu perempuan cantik, perempuan manis, perempuan seksi, dan perempuan matre. Sayangnya saya nggak akan bahas yang terakhir, karena semua perempuan sudah pasti seperti itu. #uhukk

Oke, saya akan mencoba menelaah perbedaan dari ketiga tipe perempuan ini. Siap? 

Perempuan Manis
She looks awesome with no make up at all
Perempuan macam ini yang paling menggoda (buat saya). Karena perempuan manis sudah memiliki kecantikan yang alamiah, tapi lebih menonjolkan kecantikannya dalam bertingkah laku, bergaul, dan berkata-kata. Orang bilang namanya 'inner beauty'. Buat saya, daya tarik perempuan manis nggak pernah membosankan. Mereka bisa tampil sangat mempesona dengan inner beauty-nya, dan yang paling penting, nggak memakai riasan wajah yang berlebihan.


Perempuan Cantik 
Katy Perry, born to be amazing
Perempuan tipe ini adalah mereka yang memang lahir ceprot sudah punya wajah yang cantik. Biasanya tipe yang seperti ini pinter banget untuk urusan dandan, baik merias wajah atau melakukan perawatan. Repotnya kalau pacaran dengan perempuan tipe ini adalah kita harus sering mengantarnya ke salon, klinik kecantikan, atau ke spa. Tapi memang sih, kebanyakan laki-laki bangga kalau punya tipe perempuan cantik karena akan membuat laki-laki lain iri. Kesimpulannya, siap-siap sakit hati, sering ada kasus teman makan teman karena tipe perempuan seperti ini. 

Perempuan Seksi 
It's Megan Fox, Dude...! Any question?
Ini nih tipe perempuan yang paling 'hot'. Mereka adalah perempuan yang punya penampilan atau postur yang ideal. Parahnya lagi, mereka sering mempertontonkan lekuk tubuhnya yang... Ehemm.. itu. Perempuan seksi umumnya punya rasa percaya diri yang tinggi, lebih terbuka (sikap dan pakaiannya, kadang..), dan yang jelas sangat memperhatikan bentuk tubuh mereka. Berat badan naik lima kilo samadengan kiamat. Tipe perempuan seperti ini yang paling banyak menarik perhatian laki-laki, terutama yang hidungnya belang. (Hidung saya pesek, bukan belang...) 

Nah, itu tipe perempuan menurut saya. Tapi buat saya sih, mau tipe perempuan seperti apapun, yang penting mau jadi teman hidup sampai akhir jaman. #eeeeaaaaaa 

Wassalam. Salam sayang dari laki-laki penyayang yang sayangnya nggak punya perempuan untuk disayang-sayang selain ibunya tersayang. Makasyang.

Saturday, February 11, 2012

Gondrong Itu Nggak Gampang

Impian saya saat masih anak-anak, akil baligh, menginjak remaja, sedikit dewasa, dan sampai sekarang adalah punya rambut gondrong a la musisi metal. Sama seperti mimpi-mimpi yang lain, untuk mewujudkan impian punya rambut gondrong nggak segampang mengeluarkan upil dari lubang hidung (walaupun kadang ada yang susah juga...).


Dulu, saat masih sekolah, setahun di TK sampai SMA, nggak mungkin bisa gondrong. Begitu rambut sudah mulai menutupi telinga, gunting dari bapak guru sudah siap 'memakannya'... (istilahnya dulu 'pemoprolan' massal). Untung selama masih sekolah, saya belum pernah kena razia rambut gondrong. Maklum, saya nggak pede dengan rambut saya yang nggak lurus-lurus amat, dan nggak kriting-kriting amat. Serba nanggung, seperti tampangnya... #eeeh

Pengen punya rambut gondrong acak-acakan kek gini
Rekor rambut terpanjang saya adalah saat kuliah semester satu sampai dua. Saat itu rambut berponi ala emo sedang ngetren, ya mau nggak mau ngikut aja lah, biar dibilang gheoooll getoooh... Itupun panjangnya nggak sampai nutupin bahu. Padahal pengennya punya rambut minimal sebahu, belum sampe' segitu, eh-- Kangen Band mulai ngetren! Sempak! Saya langsung potong rambut jadi cepak, takut dibilang ikut-ikutan Vokalisnya Kangen Band. Siapa itu namanya...?? Andhika yaaaa? *uhuukk hoeek....

Saat saya menulis ini, rambut saya sedang dalam masa transisi antara cepak menuju gondrong. Masa transisi itu adalah masa yang paling sulit dan paling nggak menyenangkan. Sama seperti transisi dari orang yang berpacaran 4 tahun menuju orang yang menjomblo 4 tahun (aarggh, semoga nggak selama itu!).

Rambut dalam masa transisi memang serba nggak enak dilihat, serba nanggung. Disaat seperti inilah, teman-teman kita suka mencela potongan rambut kita yang acak-acakan. Memang sih. Saya sendiri juga lumayan risih sebenarnya. Tapi punya rambut gondrong metal adalah salah satu impian saya sejak kecil... Saat beberapa impian sudah bisa kita wujudkan, impian yang belum terwujud pasti iri, cemburu, jealous, kemudian gantung diri di kamar.. (Jangan ditiru).

Terserahlah, mau mencela potongan rambut saya seperti apapun, masuk telinga kanan, keluar lewat *tiiiiiiitt*. Sama seperti saat semua orang mencela kejombloan kita, menuju rambut gondrong juga butuh perjuangan. Susahnya ingin punya rambut gondrong itu sama seperti susahnya move on dari kamu... Sekian.

Thursday, February 9, 2012

Apa 'Pertama Kali'-Mu?

Kamu masih hidup? Ehm- saya ingin menulis hal yang sedikit absurd, but it’s real man! It’s fuckin’ real!

Dalam hidup, selalu ada ‘pertama kali’, kecuali lahir dan mati. Nggak mungkin kan kita bertanya, “Eh, lo kapan pertama kali lahir?”, sudah jelas, kita nggak mungkin dilahirkan lebih dari sekali. Begitupun mati. Nggak mungkin kita bertanya, "Lo udah mati yang keberapa kali?".

Ada ‘pertama kali’ yang nikmat, ada yang lumayan, dan ada yang sangat menyesakkan jiwa raga.

Contoh ‘pertama kali’ yang nikmat:

1. Pertama kali mimpi basah
2. Pertama kali berhubungan seks
3. Pertama kali ciuman
4. Maaf, otak lagi nggak beres…

Contoh ‘pertama kali’ yang (kira-kira) lumayan:

1. Pertama kali dapet gaji kerja
2. Pertama kali ke luar negeri (saya belum pernah)
3. Pertama kali nonton pertandingan NBA secara langsung (saya belum pernah)
4. Pertama kali naik pesawat terbang (saya belum pernah)

Contoh ‘pertama kali’ yang menyesakkan jiwa raga:

1. Pertama kali diputusin cewek
2. Pertama kali ditolak cewek
Yang membuat dua hal diatas terasa jauh lebih nyesek daripada seharusnya adalah karena dua hal itu pertama kalinya saya alami di kehidupan ini, dan hanya dalam kurun waktu kurang dari enam bulan. Tuhan itu adil, Dia membuat umatnya merasakan semua hal yang memang seharusnya dirasakan. Mungkin hal yang saya alami beberapa hari yang lalu itu adalah pengingat, manusia nggak boleh sombong, apapun alasannya.

Demikian, sekian, Wassalam.

Sunday, February 5, 2012

Karena Kamu Nyata

"Kau lihat itu?"
"Ya.", Sahutku. Gulungan-gulungan ombak semakin mendekati telapak kaki kami yang telanjang. Kalau beberapa jam lagi nggak beranjak dari sini, kami akan tenggelam. Air laut di Pantai Kuta malam ini pasang. Kami duduk berdua, diantara ratusan pasangan lain. Tapi mungkin hanya kami yang akan tenggelam. Dalam kesedihan yang orang sebut perpisahan.

**********


Pekerjaanku beberapa hari ini cukup menyita waktu. Bahkan waktuku terlalu berharga kalau kubuang untuk sekedar menyisir rambut. Tapi sore itu, aku menghabiskan beberapa menit untuk menyegarkan wajahku yang kusut dan merapikan rambut yang acak-acakan. Hal yang langka buatku.



Sore ini semuanya harus selesai. Menyatakan cinta memang susah, butuh keberanian, tapi belum pernah sesusah dan setakut ini. Sebenarnya bukan ketakutan yang membuatku menunggu terlalu lama untuk mengatakannya, aku hanya ingin waktu dan tempat yang tepat. Terlalu banyak tempat yang indah di Pulau Bali. Artinya... Terlalu banyak tempat yang sempurna untuk menyatakan cinta.

Sempat terpikir, sunset di Kuta akan menjadi background yang eksotis, tapi ternyata ada tempat lain yang jauh lebih sempurna, Pantai Dreamland. Aku belum pernah kesana, tapi sore ini aku akan kesana dengannya.

Kota Denpasar masih seperti biasa, macet. Beberapa tahun disini cukup untuk mengasah kemampuanku menyelinap diantara mobil dan motor yang sama-sama nggak mau mengalah. Langit yang cerah, matahari yang masih tinggi, dan kepulan asap yang menari-nari membuat sesi berdandanku tadi nggak ada artinya. Kumel dan kusut lagi gara-gara macet. Nggak masalah, Rocker nggak pernah peduli penampilan. :)

---1 jam kemudian--- <--- (Ciri-ciri sudah males nulis.. Hahaha)

"Jadi, apa kau masih yakin denganku?", ucapnya tanpa menatapku. "Aku nggak seperti yang orang lihat. Masa laluku penuh dengan hal yang ingin aku lupakan.".

"Kau tahu., perempuan impianku tentu dipenuhi dengan kesempurnaan dan semua bentuk kebaikan.", aku melihatnya, dia menatapku. Cukup lama kami bertatap pandang sebelum aku mengalihkan tatapanku ke mentari yang sudah mulai tenggelam. "...tapi kamu jauh lebih baik dari perempuan impian itu. Karena kamu nyata."

**********

Malam ini, dia harus pergi. Meninggalkan bulir-bulir pasir di pantai yang akrab dengan telapak kaki kami. Kecupan bibirnya menjadi salam perpisahan, menyisakan satu pertanyaan: Apa kau mau kembali lagi ke pantai ini? Aku nggak akan beranjak, sampai nanti kau menyapaku dengan senyumanmu itu. Tenanglah, kita masih dibawah langit yang sama, setidaknya untuk beberapa jam lagi.

Friday, January 27, 2012

2012: 1st Chapter

Akhirnya... Ada kesempatan untuk menulis sesuatu di blog orang tampan ini. Without a further ado, let me just write. You read.


Banyak hal yang terjadi di hidup saya selama bulan pertama tahun 2012. Hal yang menyedihkan, menyenangkan, dan hal-hal absurd lain yang membuat saya semakin yakin kalau saya termasuk orang yang beruntung diberi umur panjang untuk bisa menulis catatan ini. (Seperti pembukaan pidato ya?)


Kita mulai dari hal yang menyedihkan. Bukan saya ingin membuat orang yang membaca ini ikut sedih, saya hanya nggak mau merasa sedih sendirian. Di bulan pertama tahun 2012, kehilangan seorang teman bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi kalau teman yang meninggalkan kita adalah seorang teman yang menyenangkan. 

Valia Rahma. Sebelumnya saya nggak pernah menyangka bisa kenal dengan dia. Banyak yang tahu dia adalah seorang artis, pemain film, presenter, FTV... Saya pun tahu saat bertemu dengannya pertama kali. Saat itu tanggal 02 November 2011, saya, dia, dan empat orang lainnya mengikuti ujian fase pertama sebagai Radio DJ (broadcaster) di Hard Rock Radio Bali. Hebatnya seorang Valia Rahma adalah, dia sama sekali nggak pernah membicarakan dunia keartisan Indonesia yang dia jalani. She's so down to earth... Nggak sombong, baik, ramah, dan yang paling penting - nggak pilih-pilih teman, dia bisa dan mau berteman dengan siapa saja. Pilih-pilih teman menurut saya adalah hal yang sering terjadi, bahkan di lingkup Radio lokal sekalipun! #ups

Singkat cerita, setelah melewati serangkaian training dan final test di HRRB, saya dan Valia berhasil lolos dan mendapatkan kontrak sebagai Radio DJ. Ya, saat itu hanya kami yang langsung mendapat kontrak. Hal yang sangat membanggakan, sekaligus beban yang sangat berat buat saya. Siapa yang nggak tahu  Hard Rock Radio? Perjuangan kami berdelapan (yang ikut training penyiar angkatan 11) sangat berat lho...

Sampai saat hal itu terjadi. Tanggal 5 Januari 2012, saat jam kantor, kami mendapat kabar Valia mengalami kecelakaan kendaraan bermotor di Jl. Dewi Sri (bukan di Legian seperti yang diberitakan di banyak media). Kami, keluarga besar HRRB, nggak pernah menyangka kecelakaannya begitu parah, yang membuat dia harus dirawat di ruang ICU RS Internasional Kasih Ibu, Denpasar. Tanggal 13 Januari 2012, Hari Jumat, Valia Rahma meninggal. Kita memang nggak pernah tahu kapan kita akan menghadap kepada-Nya.

Semoga almarhumah diterima di sisi-Nya.


Cerita lain di bulan ini adalah, perbedaan yang sangat jauh antara tempat kerja saya yang lama dengan yang baru. Saya bukan ingin mengeluh, tapi kalau saya bandingkan, di tempat yang sekarang lebih banyak tantangan. Banyak hal baru yang nggak saya temui di tempat lama. Kalau saja saya bukan laki-laki sejati, saya pasti sudah muntah paku dan silet sekarang.


Hard Rock Radio Bali adalah tempat yang menyenangkan untuk bekerja. Tekanannya memang sangat berat, tapi saat saya sudah mulai menikmatinya, semua jadi menyenangkan.

Bertemu dengan GM Tommy Trisdiarto yang masih sangat muda untuk seorang GM (saya sering keceplosan bilang 'Pak', padahal temen yang lain memanggilnya 'Mas'). Mas Tom baru saja mendapat gelar MM hari ini. Selamat, Mas GM... Masih banyak hal yang harus saya pelajari dari seorang Tommy Trisdiarto. Saya yakin bisa menjadi seorang karyawan yang lebih baik dibawah bimbingannya.


Program Director Wherda Arsianto, wong Jowo asli yang besar di Bali. Assisten Program Director yang sangat keras, tapi menyenangkan - Lolla Chandra (saya sampai lupa sudah berapa kali kena semprot... Hahaha). Teman-teman sesama Creative Assistant, Tamba Budiarsana, Gita Natalia, Adi Swardana, yang (pastinya) sudah melewati fase-fase 'keras' seperti yang saya sedang jalani sekarang. Mereka semua menyenangkan. Setidaknya untuk orang baru seperti saya. Kalau boleh saya bilang, keluarga HRRB adalah keluarga besar yang baik untuk saya. Amin.

Sudah ya, saya bingung ingin menulis apa lagi. Terlalu banyak hal yang ada di pikiran saya. Termasuk dia, orang yang selalu meyakinkan saya mampu menjalani hari-hari di Bali. Dia siapa? Dia yang tiga hari lalu melewatkan beberapa jam di pantai Kuta bersama saya. Dia yang tiba-tiba datang (tak diundang) disaat yang tepat. Entahlah. Yang jelas dia membuat saya bersemangat di tempat ini. Kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya.... Hahahaha.

Cinta nggak pernah datang saat kau sedang menginginkannya ada. Tapi, cinta selalu datang disaat yang tepat. Malam ini pun aku merindukannya.

Sunday, January 1, 2012

Sinopsis Novel Hidup 2011

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2012 buat anda yang merayakannya. Loh, Memangnya tidak semua merayakan? Tidak. Terutama untuk jomblo. Kalaupun merayakan, pasti ada kehampaan yang mendalam di hatinya. #eaaaa

Baiklah, tahun 2011 sudah lewat. Seperti membaca sebuah novel berhalaman 366 dan membacanya halaman demi halaman. Sebuah novel, seperti halnya film, drama, teater, dan cerita-cerita lain, tentu ada 'klimaks' atau titik puncak konflik yang terjadi. Jika anda tanya kepada saya, apa klimaks anda di tahun ini? Saya akan jawab: Berhasil lepas dari dua hal yang penting dan menyesakkan, satu dari sebuah 'tempat' yang tidak menghargai jerih payah saya dan...hiks... Di-PHK oleh pacar saya yang berinisial MJ. Marry Jane? Bukan, Maybe Jack.


Oke, biar tulisannya tidak monoton, saya akan menulis apa saja yang terjadi di hidup saya selama 2011 (yang saya ingat) dalam bentuk ramalan zodiak, kebetulan nama depan saya adalah nama zodiak. Okay, are fukkin' you ready...???



Pekerjaan: Saya bersyukur dan sangat-sangat-sangat bersyukur di penghujung tahun 2011, apa yang selama ini saya impikan dan cita-citakan berhasil saya wujudkan. Apa itu? Menjadi bagian dari HardRock Radio. In this case, HardRock Radio Bali. Jalan menuju titik ini tidaklah mudah, saudara-saudara. Dua kali saya mengirim lamaran via e-mail, yang pertama adalah sebagai Creative Assistant dan yang kedua sebagai Broadcaster. Untuk yang pertama, saya tidak dapat panggilan, dan yang kedua, anda bisa lihat sekarang. Bangga? Tentu saja. Sombong? Hm... Sampai sekarang saya masih mencari alasan dan hal-hal dalam diri saya yang bisa menjadi modal untuk sombong, sayangnya belum ketemu.


Kuta, sepulang tes dari HardRock Radio
Sebenarnya dalam hal pekerjaan, ada juga hal yang sangat sesali. Terutama dari awal tahun 2011 hingga Juli. Saya menyesal karena menghabiskan waktu, keringat, dan tenaga saya untuk sesuatu yang pada akhirnya membuang semuanya dengan alasan yang sangat tidak logis. Tidak perlu saya jelaskan, oke? Karena waktu akan membukanya. Tunggu saja waktu yang berjalan, masuk ke tempat itu, dan berteriak lantang kepada 'mereka' yang (maaf) tidak menyukai kemampuan dan kecerdasan saya. <<-- ini baru sombong.... Hahahahah

Keuangan: Yah, membahas ini sama saja dengan membahas pekerjaan, dan saya sangat benci jika harus mengaitkan keuangan dengan 'tempat itu', karena 'mereka' pasti akan semakin sombong dan berkata, "Kowe kuwi kuat tuku montor apik yo mergo nang kene". Kalau memang begitu, saya akan menjawab, "Asu kabeh kowe!"

Alhamdulillah, untuk keuangan di tahun ini, saya bisa menabung, catat - MENABUNG - hingga saya bisa membeli sebuah 'pacar' yang sangat setia dengan saya, si Mimin.

Asmara: Nah, ada dua faktor yang membuat saya tidak bisa menulis tentang ini. Satu, bahwa saya tidak ingin upaya 'move on' saya terganggu. Dua, bahwa menjomblo dalam waktu yang cukup lama (4 bulan) adalah pertama kalinya sejak saya kelas satu SMA. Oke. Kalau saya tulis dengan gaya ramalan bintang, maka asmara saya di tahun 2011 adalah KACAU-GALAU.

Begitulah. Tidak banyak bukan? Karena yang saya tulis memang hal-hal yang saya ingat saja. Kalau saya tulis semua, tidak cukup dimuat dalam satu artikel blog. Oh ya. Biasanya orang-orang sibuk dengan harapan dan resolusi di tahun baru. Um... Saya tidak akan menulisnya disini, saya lebih suka 'menulisnya' dengan tindakan. Wassalam.

Wednesday, December 28, 2011

Balada Si 'Agnes Monica' & Kantornya

Sebenarnya saya malas membahas ini, tapi daripada menjadi jerawat, kan lebih baik kalau diungkapkan? Meskipun cuma dalam postingan blog!
Oke, saya tidak bisa membuat setan disamping ini berhenti tertawa. Baiklah, sampai mana tadi saya menulis? Oh- baru mulai?

Hm- lagi-lagi saya mendapat kabar yang kurang sedap dari sahabat-sahabat saya di suatu tempat. Lagi-lagi para burung memberi kabar bahwa gejolak itu kembali terjadi. Gejolak kawula muda! #eaaaa
Gejolak yang sebenarnya sudah menjadi jamur di mata publik, menjadi rahasia umum (menurut buku Dr. Indra Soedjoedi yang saya baca, dan saya tidak tahu siapa dokter itu). Entah kenapa, hati saya tergerak. Selalu. Mungkin karena saya tidak asing dengan situasi dan kondisi seperti yang terjadi sekarang.

Mari kejar mimpimu yang tertunda, sahabatku
Sahabat saya, sebut saja Agnes Monica, adalah seorang karyawati sebuah perusahaan yang (katanya) bonafide. Perusahaan yang berdiri di...ummm... Suatu tempat. Perusahaan itu bergerak di bidang...um..bidang... Jasa pelayanan orang-orang kesurupan. Posisi AgMon adalah staf ahli hitung-menghitung. Bahasa gaulnya - staff administrasi kantor bagian pasang panggung. Dan tulisan ini semakin tidak jelas.

Nah, si sahabat saya tadi, yang namanya Syahrini itu, Syahrini gundulmu kuwi! Agnes Monica! Oh... Iyo, maaf mbah.. Agnes Monica, sudah bekerja kurang lebih hampir setahun. Selama setahun, entah apa yang dia dapat. Yang jelas Ia adalah pejuang. Yang mampu bertahan dari serangan-serangan kaum penjilat yang ada di perusahaannya. Saya salut dengan sahabat saya itu. Meskipun mungkin dalam hitungan hari, Ia 'dipaksa' mengakhiri perjuangannya dengan (maaf) tidak hormat. <-- Contoh (maaf) yang tidak penting).

Perjuangannya, usahannya, untuk memberikan semua tenaga dan jerih payah pada perusahaan dibayar dengan tiga huruf + 2 kata: PHK Secara Halus. Persis seperti yang saya alami dulu. Uhm.. Kalau saya dulu sih resign ya namanya?


Cukup sampai disitu...? Oh- tentu saja tidak. Karena soal urusan bantai-membantai karyawan, perusahaan si Agnes Monica ini jagonya. Bagaimana caranya? Ya, seperti biasa lah... Menyelesaikan semua urusan kantor yang sebenarnya tidak mutlak menjadi tanggung jawabnya.

Saya heran. Kenapa masih seperti itu? Kenapa tidak belajar dari yang sudah-sudah? Kenapa tidak mengaca pada apa yang harusnya bisa menjadi pelajaran? Apa karena sudah terlanjur besar kepala, digdaya, seolah-olah tak ada satupun manusia yang lebih hebat darinya? Seolah-olah ANDA sudah berada di tingkat langit yang paling tinggi dimana tak ada langit diatasnya?

Entahlah, itu bukan urusan saya. Yang jelas, saya punya satu pesan kepada sahabat saya, Agnes Monica: Tak usah takut. Lihat aku sekarang, sahabatku. Tuhan, Allah SWT itu Maha Adil. Ia tidak akan membiarkan hamba-Nya yang tidak bersalah terpuruk. Teruslah melangkah sahabat. Aku menunggumu, di puncak kesuksesan yang selama ini MEREKA remehkan.

NB: Mungkin anda perlu membaca tulisan ini berulang-ulang agar bisa menangkap apa yang saya curahkan. Kalau dengan sekali membaca saja anda sudah tahu, wah.. Berarti saya hebat, karena saya sendiri bingung dengan apa yang saya tulis. Tapi percayalah, saya serius, dan artikel ini memiliki arti yang mendalam jika anda paham.

Quote:
Kalau daun-daun dari sebuah pohon berguguran terus menerus, berarti yang busuk itu akarnya. Lama-lama ambruk, mati oleh waktu.

Thursday, December 8, 2011

Hidup Itu Seperti Gelembung Sabun

Beberapa jam yang lalu saya bermain di halaman rumah bersama anak-anak Om Dodik, yang punya rumah yang saya tempati (atau lebih tepatnya saya tumpangi) di Denpasar. Bermain bersama anak kecil itu selalu menyenangkan, karena tanpa sadar kita akan terbawa ke dunia mereka. Dunia yang ceria, dunia yang tanpa dosa. :)

Dan mereka bermain gelembung sabun. Pernah lihat dan pernah bermain pasti? Dulu, ketika masih seumuran mereka, saya juga suka bermain gelembung sabun. Membiarkan gelembung-gelembung sabun yang kita tiup beterbangan bebas ke udara, dan sebentar kemudian, POP!! Meletus. Berulang-ulang seperti itu.


Dan apa hubungannya dengan hidup? Hidup itu singkat, seperti gelembung-gelembung sabun yang kita buat. Sesederhana itukah? Menurut saya tidak.

Ketika gelembung-gelembung sabun itu meluncur dari alat tiup yang kita gunakan, mereka bisa saja turun dan meletus di tanah, atau terbang keatas dan meletus bersama angin. Begitupun hidup. Ketika kita jatuh terjerembab dan terpuruk, apakah kita akan memilih untuk tetap seperti itu? Pasrah mengikuti angin, meratapi nasib, kemudian mati dalam keadaan terpuruk. Kita bukan gelembung sabun yang hanya bisa mengikuti angin.

Yang jadi model: Stephanie Natalie
Mereka, gelembung sabun, tak sesempurna kita - manusia. Manusia punya tenaga untuk bangkit dari keterpurukan. Sayang tak semua manusia punya KEMAUAN untuk bangkit. Mau disamakan dengan gelembung sabun?

Sekarang, kita ke gelembung sabun yang naik keatas. Menurut Ustadz saya, manusia itu rejeki-nya sudah diatur Allah SWT. Mungkin ada dari kalian yang memang sejak lahir sudah diatas. Lahir dalam keluarga yang serba berkecukupan, tak kekurangan apapun, anak presiden mungkin? Seperti gelembung sabun yang terbang keatas, tetap saja akan meletus, apalagi ketika kita terlena dengan semua yang sudah kita miliki semenjak lahir. Ujung-ujungnya bisa ditebak. Orang yang tidak terbiasa berjuang, tidak terbiasa susah, ketika sudah sekali susah mereka akan kelabakan. Jadi, ya tetaplah belajar untuk berjuang dalam hidup.

Oke, tulisannya mulai nggak nyambung ya? Mari saya persingkat. Gelembung sabun yang kita mainkan itu indah, terutama ketika mereka terkena bias matahari, maka akan muncul pelangi di dinding-dindingnya. Sama seperti hidup, hidup kita itu indah, asal kita mau menikmatinya. Tapi hidup itu juga singkat, dan cuma sekali. Kalian mau hidup seperti apa? Mau bikin hidup terasa berat, or you just enjoy your life?

Selamat menikmati hidup.

NB: Teman saya bilang, "Hidup itu seperti orang diperkosa, kalau nggak kuat ngelawan ya nikmatin aja..."

Powered By Blogger